Archive for March, 2009

Bila seorang engineer belajar audit

Beberapa pekan lalu saya mengikuti sebuah training tentang Integrated Audit SOA. Saya pernah mendengar istilah asing ini ketika mengikuti masa pengasingan masa orientasi di Rindam Siliwangi. Dasar orang teknik, begitu mendengar istilah ekonomi, mulai dari audit, neraca, likuiditas, key control, dll, langsung mengibarkan bendera putih, nggak mudheng blas. Saya berpikir, masalah ini mending diserahkan ke anak akuntansi atau ekonomi. Ooh, ternyata ketemu lagi :| . Berbekal keinginan harus ada manfaat yang saya ambil, saya berusaha keras untuk memahami. Meskipun harus melawan kantuk. Menyuruh otak untuk berpikir, yang berusaha menolak ilmu yang sangat aneh :lol: .

Setidaknya ada beberapa hal yang nyantol di otak. Lumayan menambah ilmu. Saya jadi tahu masalah dunia audit, kenapa BNI kehilangan uang sekian trilyun, kimia farma yang menaikan angka penjualan dan menyembunyikan pajak, atau kasus Adam Air, kenapa investornya pergi karena adanya laporan keuangan yang tidak benar. Setidaknya didapat garis merah adalah Laporan keuangan harus benar agar investor percaya. Laporan keuangan akan semakin kuat apabila adanya internal control yang baik. Yang namanya investor ada yang berasal dari dalam negeri dan juga dari luar negeri. Biasanya para operator telekomunikasi akan me-listing sahamnya di NYSE (New York Stock Exchange), dan setiap operator yang listing di NYSE harus comply dengan aturan yang disebut SOA(Sarbanes Oxley Act). Dan bla bla bla (bisa dibaca didiktat nih :mrgreen: )

Alhamdulillah ada manfaat yang bisa diambil, setidaknya memperluas wawasan. Jadi ingat pesan sang guru “ Belajarlah hal-hal lain diluar spesialisasi-mu”. Hmm, benar juga. Belajar hal-hal lain akan membuat kita bisa berfikir lebih baik dan mempunyai sisi pandang yang lebih luas terhadap satu masalah.

ILMI – Bring Islam Back!!

*Tribute to all panitia ILMI

Ukhuwah, kata yang sangat indah. Ingatanku berputar, flashback ke masa kampus. Tempat dimana kutemukan kata indah itu. Tempat saat diskusi begitu ramai. Tempat dimana idealisme mulai dipupuk. Cita besar telah dimulai disini. Sekian kepanitiaan telah ada, ada satu yang paling berkesan. Islamic Leadership and Motivation traIning. ILMI, begitu para akhawat yang mengusulkan nama. Subhanallah, kreatif. Panitianya berisikan orang-orang yang luar biasa. Saya seperti terpicu, untuk bisa seperti mereka. Diskusi yang santun, tidak egois, indahnya. Selalu ada untaian kalimat penyejuk jiwa di setiap pertemuan. Tak kering jiwa ini berdekatan dengan mereka. Ada kerinduan, ada keinginan untuk selalu memberi ide yang terbaik.
Adu argumen dengan ‘ruang sebelah’, atau saling tunjuk PJ acara menjadi kenangan indah. Survey tempat bareng Redy, ke tempat-tempat asing nan indah (Semoga suatu saat, bisa survey bareng lagi red, mungkin survey rumah :mrgreen: )
Atau diskusi seru dengan sie acara.
Atau nametag dan spanduk yang keren dari sie Pubdok.
Yang membuat aturan Qiyamulail bareng, sie Evaluasi. Engkau tentu masih hafal dengan suara lantang

“Kuntum khairu ummatin ukhrijat linnas ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkari watu’minuna billah..(3:110).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..”.
Yang harus muter-muter nyari kendaraan, harus rela nganterin pembicara dengan selamat sampai Cimahi, sie Transportasi.
Atau kejadian konyol konsumsi Ustadz dimakan tanpa rasa ragu oleh ikhwan (oknum :roll: ), Jazakumullah sie konsumsi atas sesuap nasi-nya.
Bendahara, pendanaan, dan sekretaris yang sudah susah payah mengatur budget dan menyusun proposal.
Ketua yang senantiasa sabar menerima permintaan.
Semuanya begitu rapi. Soffan ka annahum bunyanun marsus. “barisan yang teratur, seperti bangunan yang tersusun kokoh”. Subhanallah, Allah pasti mencintai kalian semua.
InsyaAllah tiada yang luput dari pengamatan Allah, termasuk kerja cerdas, kerja kreatif, kerja keras, kebaikan, dan keikhlasan engkau.

sejenak ku terkenang
hakikat perjuangan , penuh onak dan cabaran
bersama teman-teman, arungi kehidupan
oh indahnya
(Selamat berjuang-Brothers)

Akhi wa ukhti, dimanapun engkau berada, titip rindu untukmu. Rindu akan tausiyah engkau. Rindu akan semangat yang senantiasa engkau tularkan. Rindu akan senyuman manismu. Rindu akan teguran lembutmu.

selamat berjuang sahabatku
semoga Allah berkatimu
kenangan indah bersamamu, tak kan kubiar ia berlalu
berjuanglah hingga ke akhirnya
dan ingatlah semua ikrar kita
(Selamat berjuang-Brothers)

Semoga Allah – Yang Maha membolak-balikkan hati, senantiasa memberikan kita kemudahan untuk selalu istiqomah. Amiin

*Terinspirasi dari hasil obrolan via telpon dengan salah satu teman, yang sama-sama merindukan suasana ILMI. Beruntung kita sama-sama memakai Flexi, jadinya bisa ngobrol gratisan *sambil promosi* 8)

Cinta

Cinta, sebuah kata yang tidak pernah selesai dibahas, begitulah pengertiannya menurut saya. Karena cinta akan selalu menarik, tak lekang oleh zaman. Jikalau hari ini cinta diartikan sebagai hubungan dua sejoli yang dimabuk asmara, hmmm terlalu naif. Sempit. Bukankah cinta seorang Ibu selalu membuat hati tergetar. Bukankah cinta para mujahid selalu membuat bumi dan langit bergoncang. Lalu kenapa sampai sekarang cinta masih berputar untuk definisi passion, intimacy dan commitment?

Jika salah seorang saudara pernah bertanya, “kenapa kamu tidak mau menanggapi sinyal dari dia?” Saya pun hanya tersenyum. Bukan karena saya tipe cowok yang tahan, justru karena saya lemah. Saya lebih menyukai untuk memotong dan tidak meneruskan interaksi.
Walhasil saya lebih memilih aktivitas di zona aman, zona hijau, berhijab dan bahkan beberapa hanya mengenal suara (voice recognition :) ). Kalaupun terpaksa berinteraksi dengan akhawat, set mode ‘dingin’ :) .
Pun akhirnya satu masa telah berlalu. Zona aman tidak selalu ada. Zona yang selalu kuhindari justru lebih banyak dan luas. Konsekuensi yang dulu dialami oleh temen-temen saya di BEM, seperti Ferdian yang harus senantiasa terlatih dengan zona merah, mau tidak mau harus saya siap hadapi.
Deg-degan, takut ketemu, trus menghindar, adalah hal yang paling sering terjadi. Ya, karena justru rasa ini yang sering muncul ketika berinteraksi dengan akhawat. Melihat jilbab lebar yang berkibar saja, hati sudah berasa lain :D . Ada sebuah pesona, ada nilai lebih disana.
Ada konsekuensi saat zona merah ini mulai kumasuki. Ada reaksi. Yah, saatnya berlatih :) .
Suatu saat dalam perjalanan dari Bandung, saudara saya Nur Adi memutar lagu D’Cinnamons (ah, saya lupa judulnya), kurang lebih begini ” Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku, hingga membuat kau percaya“. Lagu yang provokatif. Membuat hati tergerak untuk menjadi biru. Menggoda, katakan saja. Namun sisi lain berkata, “tidak untuk saat ini”. Memang mudah untuk langsung mengatakan. Memang susah melawan pergulatan batin. Jika ada rasa yang tak terungkap, saya lebih memilih untuk berdoa. Berikan yang lebih baik dari dia. Saya memilih untuk menjaga hati ini, sebelum saatnya tiba. Bukankah lebih indah jika terucap pada saat yang benar?
Cinta memang akan membuat hati takluk. Tapi saya lebih memilih untuk menjadi Tuan* atas cinta saya . Saya yang akan mengendalikannya. Bukan cinta yang justru menjadikan saya sebagai budaknya. Memikirkan yang diharap, berbunga-bunga saat bertemu, berharap bahwa dialah jodohnya. Atau pada level tertentu, memaksakan kehendak, harus dia. Mengemis kasih, itulah bahasanya Raihan. Bukankah ini perbudakan? perbudakan oleh cinta?. Ah, saya akan mengikuti barisan para pejuang yang menjadi tuan atas cintanya. InsyaAllah lebih indah :)

*Tuan boleh diganti Nyonya (setelah chatting dengan teman saya)

Posting lagi :)

Baru nyadar , kala jarak antara postingan terbaru dan sebelumnya nyaris dua tahunwataww. Berarti sudah dua tahun blog ini tidak terurus ya idiot

Tembang Ilalang

Lama tidak mengisi blog. Lama sekali halaman ini tidak kurawat :) . Akan saya mulai dari beberapa buku baru saya, hasil hunting di Islamic Book Fair 2009. Kita mulai dari Tembang Ilalang-Pergolakan Cinta Melawan Nurani dulu, buku yang lain menyusul :)

tembang-ilalang

Novel ini menceritakan tentang perjuangan pribumi, mengambil seting penjajahan Indonesia oleh Belanda kemudian oleh Jepang. Kemampuan MD. Aminudin dalam membuat deskripsi sangat luar biasa. Kuat. Nyata.

Asroel menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Tentang perjuangannya. Semangat membebaskan pribumi dari cengkeraman penjajah. Tentang perjuangan berliku demi bertemu dengan Roekmini-Sang istri tercinta.

Mencoba merangkai kepingan sejarah, menyajikannya dalam bentuk novel yang mengalir lembut namun menyentak. Novel ini akan membawa anda ke masa lalu yang penuh perjuangan, nasionalisme. Novel ini layak anda miliki *promosi*

Membuat kita sadar bahwa masih banyak yang harus kita lakukan sekarang. Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada :)

PS: Alhamdulillah disaat hati ingin membeli novel ini namun berhubung tidak membawa uang lebih, ternyata Allah memberikannya lewat panitia “Bedah buku rame-rame Pro U Media” (Jazakumullah khair) sebagai hadiah :)



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.