Tak pernah jemu hati ini untuk mengingatnya. Tak lelah bibir ini untuk berbicara lama dengannya. Satu jam, dua jam. Ah kadang kurang lama. Sudah lama aku mengenalnya, sering bertemu, sering berinteraksi. Dan kini hanya bisa via telpon. Lumayan, bisa mengurangi rasa kangen
Dia pun hadir saat wisuda, saat genap diri ini menyandang gelar sarjana. Istimewa, dia memakai pakaian yang aku tunjukkan. Senangnya. Kusempatkan untuk berfoto bersama dengannya.
Wanita ini selalu spesial di hatiku. Begitu mengerti perasaanku. Itulah makanya, meskipun aku adalah seorang yang mandiri, saat berdua dengannya, langsung berubah manja. Dia selalu bisa menjadi pendengar yang baik, sekaligus pemberi nasihat yang indah. Pesan sederhananya, “Jangan lupa sholat nanti malem”. Terimakasih, engkau mengingatkan.
Wanita ini begitu mengesankan, banyak hal-hal tentang dirinya yang tak pernah kulupakan. Kebiasaan-kebiasaannya, lugas tergambar. Saking bermaknanya, tak pernah lupa didaftar doa. Memohon agar selalu dalam kesehatan dan keberkahan. Aku takut kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupku.
Lama aku tak bisa menatap wajahnya. Lama tak melihat ekspresi wajah dan tubuhnya saat berbicara. Sudah lama tangan ini tidak menggandeng tangannya dengan lembut. Berjalan hanya berdua saja. Berboncengan dengan motor menikmati jalanan Bandung, mencari jilbab
. Rindu aku.
Dan sempurna, saya mengatakan cinta, lirih.
Ibu… aku kangen, aku ingin menggandeng tanganmu lagi
Kapan kita jalan-jalan lagi di Bandung?
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
(Bunda-Melly G)
Jadi pengen pulang
romantisnyah ke ibu sendiri. tapi emang harus gituh sih.
kirain ibu kamu lagi ultah fer, sama kaya Si Papah.
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
….
….
-iwan fals-