Archive for July, 2009

Menapaki rasa, hari ini

Entah mengapa hari ini saya merasa tidak biasa. Mengingat segala keburukan diri. Kelemahan. Dosa-dosa yang tak terhitung. Merasa bahwa diri ini adalah tanah yang terus ternoda. Yang terus ternganga oleh luka dosa, terkikis iman karena maksiat. Yang jauh dari rasa tawadhu. Sombong. Merasa lebih mulia. Ikhlas yang tercampur dengan pujian. Astaghfirullah

Alhamdulillah, sampai hari ini Engkau memberi segala kenikmatan. Haru hati ini, Engkau begitu sayang kepadaku.. Padahal tak sedikit diri ini lupa kepadaMu. Lalai. Allah aku malu, kadang cintaMu tak berbalas. Sering terlena dengan yang lainnya.

Allah.. begitu makna syukurku sangat sempit. Tak seluas seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Seorang yang dijamin masuk syurga begitu bersemangat beribadah. Terhentak saat mengingat kisah beliau, yang lebih mencintai sholat malam daripada hal duniawi. Daripada berduaan dengan istri, terlelap pulas dalam buaian mimpi. Lembut saat beliau mengatakan bahwa beliau ingin bersyukur kepada Sang pemberi nikmat. Mataku selalu berkaca-kaca, dan menangis. Beliau tak pernah lupa bersyukur. Sedangkan aku? Sering aku hanya datang saat terluka. Saat butuh bantuan, terjembab dalam kedukaan. Namun jauh dariMu saat nikmat hadir. Saat lapang. Tenggelam dalam kesenangan.

Padahal jelas dalam surat cintaMu tertera

“La’in syakartum laa aziidannakum, wala’in kafartum inna adzabii lasyadiid” (Ibrahim-7)

 Jika kamu bersyukur akan nikmat yang Aku berikan kepada-Mu, niscaya akan Aku tambah nikmat tersebut kepadamu, namun jika kamu kufur akan nikmat-Ku, ingatlah bahwa azab-Ku sangat pedih.

NikmatMu sungguh tak terhitung. Tak kan tertulis meski lautan dijadikan tinta. Begitu cintaMu tetap hadir. Mengisi hari-hari. Memberi apa yang dipinta. Mengabulkan do’a-do’a pada yang datang padaMu. Memudahkan kepada siapa yang bersungguh-sungguh berharap padaMu.

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau beri

Padahal diriku terlalu sering membuatMu kecewa
Entah mungkin karna ku terlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

Agar aku kembali

(Edcoustic-Aku ingin mencintai-Mu)

Hari ini menjadi begitu bermakna. Semoga aku bisa Mencintai-Mu dengan sebenar-benar cinta. Semoga diri ini bisa menjadi seorang yang bersyukur, Abdan syakuran. Bukan seorang yang kufur nikmat. Agar nikmat selalu bertambah dan penuh dengan keberkahan.

Kututup hari ini dengan do’a indah, yang sering membasahi lisan mulia Rasulullah.

Allahumma inni as’alukal huda wat tuqaa wal ‘afafa wal ghina.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kecukupan.

Kembalilah..

Sedih. Kala engkau bercerita,

“Mata yang dulu teduh kini mata itu menatap sinis padaku. Menilaiku sebelah mata, setelah-sebelumnya menganggapku sebagai saudara seiman. Yang dulu senantiasa penuh dengan rasa itsar seakan hilang. Yang dulu mengucap salam kini seakan kebas akan kehadiranku. Hanya karena aku membuat satu kesalahan. Karena futur. Namun dianggap fatal. Seakan tiada kata maaf lagi.”

Huffh, saya hanya bisa menahan sesak. Inilah alasan engkau tidak mau kembali lagi.

“Akhi, bisa jadi apa yang antum kira, benar adanya, atau-bisa jadi salah sempurna. Bukankah hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati seseorang. Bisa jadi antum salah mengira, hanya perasaan antum saja. Antum merasa bersalah, sehingga saat ada teman yang sedang pusing, diam, antum kira sinis. Ketika ada teman yang sedang buru-buru, atau memang tidak melihat, antum kira tidak mau menyapa. Kalaupun antum benar kiranya, sesungguhnya beliaupun hanya seorang manusia. Seperti kita. Bisa kecewa, ketika ada salah yang tampak. Namun bukan berarti lantas antum pergi dari jalan ini ”

“Lantas engkau pun merasa bukan bagian dari kami lagi. Merasa malu, jika harus bertemu dengan kami. Bisakah antum lupakan semuanya, toh masih ada yang lain. Kenapa harus memikirkan segilintir orang yang tidak suka pada kita, lantas mengabaikan pandangan hangat saudara-saudara lainnya. Saya tidak suka antum dibilang orang yang berguguran, saya meyakini antum hanya berifikir, mengumpulkan kepingan yang terserak, agar kembali utuh. Agar-justru merasa lebih yakin di jalan ini, seperti Ibrahim ketika mencari kebenaran. Salah, salah, salah dan akhirnya mendapat cahaya kebenaran”

“Bisakah engkau kembali?”

Engkau pun terdiam sesaat,

“ Saya masih malu akh, sudah lama saya pergi. Masih pantaskah?, sudah tertinggal jauh”

Bro, saya pun masih belajar. Kita disini hanya berniat memperbaiki diri lebih baik lagi. Tiada niat berbangga diri. Merasa paling mulia karena lebih dulu atau lebih lama di jalan ini. Yang penting adalah niatan kita untuk berubah, konsisten. Ke-arah yang lebih baik”

Thanks bro, butuh waktu untuk bisa kembali lagi, mohon doanya”

———————————————————————————-

Sering. Sering sekali dialog ini terulang dalam episode jalan ini. Saudara kita merasa tercecer, merasa ditinggalkan. Sampai berkata salah apa saya?. Merasa diberi label “gugur” di dahinya. Astaghfirullah..

Sesungguhnya engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu

Berhimpun dalam naungan cintamu

Bertemu dalam ketaatan

Bersatu dalam perjuangan

Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya

Tegakkanlah cintanya

Tunjukilah jalan-jalannya

Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam

Ya Rabbi bimbinglah kami

(Doa Rabithah-Izzis)

Akhi kami rindu kehadiranmu. Rindu canda dan tawamu. Potongan-potongan sejarah di kampus selalu menyeruak indah. Memoar semangatmu, idealisme-mu tergambar lugas. Jangan padamkan itu.

Sesungguhnya jalan ini masih panjang, garis finish ada, bukan saat gelar ST tersandang. Atau saat maisyah tergapai, ataupun saat aisyah tersanding. Garis finish itu ada saat ajal datang dan kemenangan berbuah taman syurga.

Wamal hayaa tuddunyaa illaa mataaul ghuruur. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang melenakan. (Ali Imran :185)

Saudaraku…

Selalu ada tempat untukmu..

Kembalilah…



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.