Menapaki rasa, hari ini

Entah mengapa hari ini saya merasa tidak biasa. Mengingat segala keburukan diri. Kelemahan. Dosa-dosa yang tak terhitung. Merasa bahwa diri ini adalah tanah yang terus ternoda. Yang terus ternganga oleh luka dosa, terkikis iman karena maksiat. Yang jauh dari rasa tawadhu. Sombong. Merasa lebih mulia. Ikhlas yang tercampur dengan pujian. Astaghfirullah

Alhamdulillah, sampai hari ini Engkau memberi segala kenikmatan. Haru hati ini, Engkau begitu sayang kepadaku.. Padahal tak sedikit diri ini lupa kepadaMu. Lalai. Allah aku malu, kadang cintaMu tak berbalas. Sering terlena dengan yang lainnya.

Allah.. begitu makna syukurku sangat sempit. Tak seluas seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Seorang yang dijamin masuk syurga begitu bersemangat beribadah. Terhentak saat mengingat kisah beliau, yang lebih mencintai sholat malam daripada hal duniawi. Daripada berduaan dengan istri, terlelap pulas dalam buaian mimpi. Lembut saat beliau mengatakan bahwa beliau ingin bersyukur kepada Sang pemberi nikmat. Mataku selalu berkaca-kaca, dan menangis. Beliau tak pernah lupa bersyukur. Sedangkan aku? Sering aku hanya datang saat terluka. Saat butuh bantuan, terjembab dalam kedukaan. Namun jauh dariMu saat nikmat hadir. Saat lapang. Tenggelam dalam kesenangan.

Padahal jelas dalam surat cintaMu tertera

“La’in syakartum laa aziidannakum, wala’in kafartum inna adzabii lasyadiid” (Ibrahim-7)

 Jika kamu bersyukur akan nikmat yang Aku berikan kepada-Mu, niscaya akan Aku tambah nikmat tersebut kepadamu, namun jika kamu kufur akan nikmat-Ku, ingatlah bahwa azab-Ku sangat pedih.

NikmatMu sungguh tak terhitung. Tak kan tertulis meski lautan dijadikan tinta. Begitu cintaMu tetap hadir. Mengisi hari-hari. Memberi apa yang dipinta. Mengabulkan do’a-do’a pada yang datang padaMu. Memudahkan kepada siapa yang bersungguh-sungguh berharap padaMu.

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau beri

Padahal diriku terlalu sering membuatMu kecewa
Entah mungkin karna ku terlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

Agar aku kembali

(Edcoustic-Aku ingin mencintai-Mu)

Hari ini menjadi begitu bermakna. Semoga aku bisa Mencintai-Mu dengan sebenar-benar cinta. Semoga diri ini bisa menjadi seorang yang bersyukur, Abdan syakuran. Bukan seorang yang kufur nikmat. Agar nikmat selalu bertambah dan penuh dengan keberkahan.

Kututup hari ini dengan do’a indah, yang sering membasahi lisan mulia Rasulullah.

Allahumma inni as’alukal huda wat tuqaa wal ‘afafa wal ghina.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kecukupan.

Kembalilah..

Sedih. Kala engkau bercerita,

“Mata yang dulu teduh kini mata itu menatap sinis padaku. Menilaiku sebelah mata, setelah-sebelumnya menganggapku sebagai saudara seiman. Yang dulu senantiasa penuh dengan rasa itsar seakan hilang. Yang dulu mengucap salam kini seakan kebas akan kehadiranku. Hanya karena aku membuat satu kesalahan. Karena futur. Namun dianggap fatal. Seakan tiada kata maaf lagi.”

Huffh, saya hanya bisa menahan sesak. Inilah alasan engkau tidak mau kembali lagi.

“Akhi, bisa jadi apa yang antum kira, benar adanya, atau-bisa jadi salah sempurna. Bukankah hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati seseorang. Bisa jadi antum salah mengira, hanya perasaan antum saja. Antum merasa bersalah, sehingga saat ada teman yang sedang pusing, diam, antum kira sinis. Ketika ada teman yang sedang buru-buru, atau memang tidak melihat, antum kira tidak mau menyapa. Kalaupun antum benar kiranya, sesungguhnya beliaupun hanya seorang manusia. Seperti kita. Bisa kecewa, ketika ada salah yang tampak. Namun bukan berarti lantas antum pergi dari jalan ini ”

“Lantas engkau pun merasa bukan bagian dari kami lagi. Merasa malu, jika harus bertemu dengan kami. Bisakah antum lupakan semuanya, toh masih ada yang lain. Kenapa harus memikirkan segilintir orang yang tidak suka pada kita, lantas mengabaikan pandangan hangat saudara-saudara lainnya. Saya tidak suka antum dibilang orang yang berguguran, saya meyakini antum hanya berifikir, mengumpulkan kepingan yang terserak, agar kembali utuh. Agar-justru merasa lebih yakin di jalan ini, seperti Ibrahim ketika mencari kebenaran. Salah, salah, salah dan akhirnya mendapat cahaya kebenaran”

“Bisakah engkau kembali?”

Engkau pun terdiam sesaat,

“ Saya masih malu akh, sudah lama saya pergi. Masih pantaskah?, sudah tertinggal jauh”

Bro, saya pun masih belajar. Kita disini hanya berniat memperbaiki diri lebih baik lagi. Tiada niat berbangga diri. Merasa paling mulia karena lebih dulu atau lebih lama di jalan ini. Yang penting adalah niatan kita untuk berubah, konsisten. Ke-arah yang lebih baik”

Thanks bro, butuh waktu untuk bisa kembali lagi, mohon doanya”

———————————————————————————-

Sering. Sering sekali dialog ini terulang dalam episode jalan ini. Saudara kita merasa tercecer, merasa ditinggalkan. Sampai berkata salah apa saya?. Merasa diberi label “gugur” di dahinya. Astaghfirullah..

Sesungguhnya engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu

Berhimpun dalam naungan cintamu

Bertemu dalam ketaatan

Bersatu dalam perjuangan

Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya

Tegakkanlah cintanya

Tunjukilah jalan-jalannya

Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam

Ya Rabbi bimbinglah kami

(Doa Rabithah-Izzis)

Akhi kami rindu kehadiranmu. Rindu canda dan tawamu. Potongan-potongan sejarah di kampus selalu menyeruak indah. Memoar semangatmu, idealisme-mu tergambar lugas. Jangan padamkan itu.

Sesungguhnya jalan ini masih panjang, garis finish ada, bukan saat gelar ST tersandang. Atau saat maisyah tergapai, ataupun saat aisyah tersanding. Garis finish itu ada saat ajal datang dan kemenangan berbuah taman syurga.

Wamal hayaa tuddunyaa illaa mataaul ghuruur. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang melenakan. (Ali Imran :185)

Saudaraku…

Selalu ada tempat untukmu..

Kembalilah…

Agar subuh tidak telat (lagi)

Seringkali kejadian bangun siang terjadi. Menyesal karena terlambat bangun. Terlambat sholat subuh. Menyesal karena tidak sempat sholat subuh berjamaah. Atau menyalahkan orang lain karena tidak membangunkan. Hmmmm, tidak solutif.

Bicara bangun pagi, atau bangun di sepertiga malam akhir, gampang-gampang susah. Bisa menjadi gampang ketika niatan untuk bangun begitu kuat dihati. Akan menjadi susah manakala syetan sudah menjadi sahabat karib kita. Berikut adalah tips-tips untuk bangun dipagi hari:

  1. Niat untuk bangun lebih awal, ulangi terus niat ini. Resapi dan jadikan niatan itu merasuki otak kita. Niat ini yang paling utama,
  2. Berdoa sebelum tidur, syukur-syukur dalam keadaan bersuci/berwudlu. Memohon pada Allah agar memberikan ampunan dan karunia untuk bisa bangun di awal
  3. Jika ada teman yang sering bangun lebih awal, mintalah untuk  bersedia membangunkan
  4. Jika sendirian, pasang alarm dan sediakan alarm cadangan pada menit berikutnya. Contoh, saya memakai dua Hape sebagai alarm. Hape pertama diset 03.40, 04.00, 04.20 sedangkan hape kedua 04.00 dan 04.30. Karena terkadang secara refleks tangan akan mematikan alarm tanpa sadar, kemudian pulas kembali. Alarm 04.20 untuk mengingatkan saatnya witir, 04.30 untuk mengingatkan siap-siap ke masjid, karena waktu sholat subuh sudah dekat.
  5. Langsung bangun, jangan nempel ke kasur lagi. Karena kita diikat oleh syetan sebanyak 3 kali, setiap ikatan syetan membisikkan “malam masih panjang, tidurlah dengan nyenyak”. Ikatan pertama akan lepas saat berdoa, kedua akan lepas saat kita berwudlu dan ikatan terakhir akan lepas saat kita sholat.

Awalnya mungkin berat, tapi insyaAllah bisa. InsyaAllah anda akan mudah bangun pagi. Menikmati keheningan. Berdialog, meminta hanya pada-Nya. Syahdu.

Karena bangun pagi adalah salah satu karunia dari Allah, bersyukurlah seandainya kita mendapatkannya. Berbahagialah jika nikmat itu selalu Allah berikan, jangan sampai maksiat membuat Allah mencabutnya.

Mari kita ramaikan sholat subuh berjamaah. Jangan biarkan suasana masjid kala subuh menjadi “jompo”. Isi shaff-nya dengan diri kita. Segarkan suasananya. Raih sejuknya pagi hari. Dan mari ucapkan Asbahna :)

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam

Tetapi insan kalaupun ada hanya
Mata yang jelek dipejam lagi
Hatinya penuh benci
Berdengkurlah kembali

Begitulah peristiwa di Subuh hari
Suara insan di alam mimpi

Ayo bangunlah tunaikan perintah Allah
Sujud mengharap keampunanNya
Bersyukurlah, bangkitlah segera
Moga mendapat keridhoannya

Begitulah peristiwa di Subuh hari
Setiap pagi, setiap hari

(Peristiwa Subuh-Raihan)

(Masih) ada ruang untuk cinta

Selalu ada pilihan atas ruang-ruang yang ada. Setiap ruang akan memiliki makna yang berbeda. Lebih indah. Lebih melankolik. Lebih heroik. Semua pilihan akan jatuh pada kondisi yang sesuai dengan keinginan. Sesuai yang diniatkannya.

Seperti halnya ketika saudara saya bertanya, “Bolehkah kita memilih sendiri?”

Hmm, pertanyaan  yang mengundang diskusi. Saya pun teringat ketika hal ini pernah saya pertanyakan pada ustadz. “Boleh, asal dikomunikasikan”, jawab beliau.

Komunikasi, berarti tidak sekedar mengabarkan. Ada dialog disana. Ada pertimbangan-pertimbangan yang akan dibahas. Menggapai kebaikan. Tidak hanya untuk pribadi tapi untuk kemaslahatan bersama.

Love is blind, suatu saat Redy-salah satu saudara saya- mengucapkannya ketika sudah menikah. Semua indah. Khas remaja, kata orang-meskipun saya tidak setuju, karena urusan ini tidak mengenal usia-.

Bagaimana kalau rasa itu datang tanpa diundang. Haruskah dihilangkan. Apalagi kalau muncul perasaan antara ikhwan dan akhwat, sementara mereka menganggap fitrah itu kotor. Ter ingat kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Bukankah sudah ada kecenderungan sebelumnya. Namun Ali cerdas memanajemen hati. Menyimpan dan mengungkapkan disaat yang tepat. Menjadikan penguat tekad. Bukan meninggalkannya serta merta.

Ini adalah karena hati yang jernih, Ali tahu persis keutamaan Fatimah. Keshalihannya. Akhlaknya. Lantas kenapa tidak segera dipinang.

Kalau memang dia adalah jawaban atas doa dan istikharah. Lantas, haruskah dibuang. Mengingkari perasaan. Akankah lebih baik, menata hati, menguatkan tekad, lantas menjemputnya.

Sekali lagi bukan karena masalah nafsu belaka. Hal yang kadang membuat suci jadi kotor. Karena bisa jadi hati tidak jernih,menjadi tertutup. Alih-alih istikharah, sholat hajat yang ditunaikan. Bukannya meminta petunjuk meminta yang terbaik, justru memaksa Allah menjodohkan dengannya. Mungkin akan sama orangnya, tapi bukankah lebih indah ketika Allah mengulurkannya dengan lembut, bukan melempar dengan murka.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui,Sedang engkau tidak mengetahui.”. Indah Allah memberi petunjuk bagi manusia. Bukankah kita hanya manusia yang tidak tahu apa-apa, sedang Allah Maha Mengetahui. Saya memohon semoga Allah memberi yang terbaik untuk kita.

meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu

maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta

(Rapuh-Opick)

Dedicated for my brother and myself

Berharaplah pada Allah , bukan pada manusia

Ingin kugandeng tangannya (lagi)

Tak pernah jemu hati ini untuk mengingatnya. Tak lelah bibir ini untuk berbicara lama dengannya. Satu jam, dua jam. Ah kadang kurang lama. Sudah lama aku mengenalnya, sering bertemu, sering berinteraksi. Dan kini hanya bisa via telpon. Lumayan, bisa mengurangi rasa kangen🙂

Dia pun hadir saat wisuda, saat genap diri ini menyandang gelar sarjana. Istimewa, dia memakai pakaian yang aku tunjukkan. Senangnya. Kusempatkan untuk berfoto bersama dengannya.

Wanita ini selalu spesial di hatiku. Begitu mengerti perasaanku. Itulah makanya, meskipun aku adalah seorang yang mandiri, saat berdua dengannya, langsung berubah manja. Dia selalu bisa menjadi pendengar yang baik, sekaligus pemberi nasihat yang indah. Pesan sederhananya, “Jangan lupa sholat nanti malem”. Terimakasih, engkau mengingatkan.

Wanita ini begitu mengesankan, banyak hal-hal tentang dirinya yang tak pernah kulupakan. Kebiasaan-kebiasaannya, lugas tergambar. Saking bermaknanya, tak pernah lupa didaftar doa. Memohon agar selalu dalam kesehatan dan keberkahan. Aku takut kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupku.

Lama aku tak bisa menatap wajahnya. Lama tak melihat ekspresi wajah dan tubuhnya saat berbicara. Sudah lama tangan ini tidak menggandeng tangannya dengan lembut. Berjalan hanya berdua saja. Berboncengan dengan motor menikmati jalanan Bandung, mencari jilbab😀 . Rindu aku.

Dan sempurna, saya mengatakan cinta, lirih.

Ibu… aku kangen, aku ingin menggandeng tanganmu lagi🙂

Kapan kita jalan-jalan lagi di Bandung?

Kata mereka diriku selalu dimanja

Kata mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

(Bunda-Melly G)

Mutaba’ah

Dalam sebuah pertemuan rutin, tibalah pada satu sesi khusus. Sesi yang bisa jadi ditunggu-tunggu, atau bahkan karena tidak dewasa, justru jadi alasan pribadi untuk tidak hadir dipertemuan ini. Sesi istimewa. Sesi curhat. Mutaba’ah. Pada sesi ini semua akan menceritakan kondisinya selama sepekan atau mungkin meminta solusi dari masalah yang dihadapi. Satu per-satu akan ditanya. Kondisi kesehatan, kondisi keluarga, kondisi amalan ibadah, dan kondisi pekerjaan. Ada yang bercerita tentang adik yang akan masuk Sekolah favorit, meminta doa semoga dipermudah. Ada yang bercerita tentang pekerjaan yang masih belum kondusif. Cerita tentang ibadahnya yang semakin –Alhamdulillah- baik, atau meminta doa semoga ibadah yang pekan ini turun, bisa naik di pekan berikutnya.

“Alhamdulillah sehat, kondisi keluarga baik. Tilawah rutin, sudah satu juz. Qiyamulail 3 kali, sholat dhuha tiap hari. Mohon do’a semoga tetap istiqomah”, kata seorang peserta.

“Pekan ini, ibadah lagi turun. Qiyamulail hanya sekali, tilawah bolong-bolong, sholat subuh kesiangan terus” sesal salah seorang peserta.

Satu kalimat penutup dari ustadz, “ kondisi yang antum ceritakan sekarang adalah gambaran diri antum. Apakah itu sholat jamaahnya rajin atau tidak, Tilawahnya rutin atau masih bolong-bolong, Qiyamulail atau bangun siang. Itu cerminan antum. Disini kita tidak untuk pamer ibadah atau riya yang akan memberangus amalan kita, tapi untuk mengingatkan dan menjadi motivasi untuk lebih baik”

Sederhana, tapi bermakna. Dalam, menembus hati. Seberapa besar perhatian dengan keluarga. Seberapa professional kita bekerja. Seberapa serius kita menyiapkan bekal di akhirat nanti.

“.. Tidaklah hamba-hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dibanding hal-hal yang Aku wajibkan. Dan hambaKu akan terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan- amalan nafilah, sampai Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengannya. Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan dimana ia bertindak dengannya. Dan aku akan menjadi kaki yang mana ia berjalan dengannya”

Yuk sama-sama kita siapkan bekal kita. Berikan waktu terbaik, diawal dan tempat terbaik, masjid untuk sholat kita. Berikan bonus untuk kita dengan sholat rawatib. Berdoa sebelum tidur. Bangun saat alarm dini hari dengan ‘ikhlas’ berbunyi. Berdua dengan-Nya, curhat, meminta ampunan dan kemudahan. Isi jiwa dengan tilawah. Mengisi pagi yang sejuk dan indah dengan lantunan dzikir almatsurat, atau pas sore hari. Sholat dhuha yang akan membuat rezeki lancar dan diberi kemudahan. Siapkan infaq terbaik untuk investasi akhirat kelak.

Saudaraku tolong saling bantu saya untuk menyiapkan bekal ini.

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti
Sungguh kematian adalah muara manusia
Relakah dirimu
Menyertai segolongan orang
Mereka membawa bekal
sedangkan tanganmu hampa

Rasulullah bersabda
Perbanyaklah mengingat
Akan pemusnah segala kenikmatan dunia
Itulah kematian yang kan pasti datang
Kita tahu kapan waktunya kan menjelang

Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah
Niscaya engkaukan berada dalam Naungannya
dihari kiamat disaat tiada naungan untuk manusia selain naunganNya
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya
Dosapun berguguran, bak daun dari pepohonan

(DzikrulMaut-Suara Persaudaraan)

Dia milikku

Lantunan lagu dari yovie and the nuno (bukan tupen and the betha) terdengar jelas dari kamar tetangga. Judulnya kalau tidak salah ‘Dia milikku’, liriknya begini (sambil bayangin suara satu tupen, suara dua betha) he_hee

dia untukku, bukan untukmu

dia milikku, bukan milikmu

lihatlah nanti, lihatlah saja

biarkan aku mendekatinya

Lagu bagus, tapi cengeng. Rebutan wanita. Saya jadi teringat salah satu kisah tentang Ali bin Abi Thalib saat memaknai tentang cinta pada seorang wanita, Fatimah puteri Rasulullah. Sebagai seorang yang sangat dekat dengan Rasul, wajar Ali tahu persis Fatimah. Kelembutannya, perangainya, kecerdasannya. Kagum, atau mungkin tumbuh menjadi cinta. Atau pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, mungkin begitu. Hati selalu menjadi sesuatu yang misterius dan susah diterka.

Sontak Ali kaget ketika mendengar Abu Bakar akan melamar Fatimah. Ah, siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar. Keimanannya, keluhuran budinya, Ash shidiq julukan beliau. Sepak terjang dan komitmen beliau sungguh luar biasa.

Siapa saya?, resam Ali.

Pemuda miskin dibanding saudagar kaya? Fatimah akan lebih bahagia. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam Ali. “Saya lebih mengutamakan Abu Bakar atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku”. Rupanya lamaran Abu Bakar tidak bersambut, dan rasa itupun bersemi kembali. Saatnya Ali untuk terus mempersiapkan diri.

Namun Ali kembali tersentak, Umar pun datang melamar Fatimah! Kembali Ali membandingkan dirinya dengan Umar. Sosok perkasa, pemberani, bahkan setan pun takut padanya. Dia yang sampai Rasul berdoa, kutkanlah Islam dengan salah satu Umar. Dia yang membuat musuh gentar, tak berani. Sosok yang mampu membuat kaum muslimin lebih berani menegakkan kepala dihadapan musuh.

“Siapa saya?”, resam Ali kembali.

Rupanya Umar pun ditolak.

Ali pun berpikir, seperti apakah menantu yang dicari Rasul? Yang kaya raya, atau yang lebih tampan?

“Kenapa engkau tidak mencobanya Ali?”, saran seorang sahabat Ali.

“Aku?”, jawab Ali

“Siapa saya?, saya hanya pemuda miskin”

“Majulah saudaraku, kami siap membantu”, jawab sahabat Ali

Maka dibulatkan tekad. Bukankah seorang pemuda, harus mempertanggungjawabkan perasaannya. Kalau pun sekarang hanya ada baju besi dan tepung kasar sekadarnya, tidak bisa dijadikan alasan meminta Fatimah menunggu. Kenakak-kanakan jika harus meminta seperti itu. Bukankah Allah berjanji akan memampukan orang yang menikah.

Gayung pun bersambut, ‘Ahlan wa sahlan’, kata Rasul. Lamaran Ali diterima. Fatimah dan Ali akhirnya menikah.

Dengan keberanian akhirnya Ali menuntaskan hatinya. Dengan pengorbanan hati, mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Meskipun ada senyap di hati, ada rasa yang menyentak di dada. Indah katanya ”Saya lebih mengutamakan Abu Bakar atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku”. Tidak cengeng memaknai cinta. Dia milikku, bukan milikmu, kata Yovie and Nuno. Rebutan?, cape de.

*kalau ada kesamaan tokoh, misal nama, adalah unsur kesengajaan. Tidak ada maksud tertentu, kebetulan sedang terlintas nama-nama tersebut, piss bro peace1*