Cinta

Cinta, sebuah kata yang tidak pernah selesai dibahas, begitulah pengertiannya menurut saya. Karena cinta akan selalu menarik, tak lekang oleh zaman. Jikalau hari ini cinta diartikan sebagai hubungan dua sejoli yang dimabuk asmara, hmmm terlalu naif. Sempit. Bukankah cinta seorang Ibu selalu membuat hati tergetar. Bukankah cinta para mujahid selalu membuat bumi dan langit bergoncang. Lalu kenapa sampai sekarang cinta masih berputar untuk definisi passion, intimacy dan commitment?

Jika salah seorang saudara pernah bertanya, “kenapa kamu tidak mau menanggapi sinyal dari dia?” Saya pun hanya tersenyum. Bukan karena saya tipe cowok yang tahan, justru karena saya lemah. Saya lebih menyukai untuk memotong dan tidak meneruskan interaksi.
Walhasil saya lebih memilih aktivitas di zona aman, zona hijau, berhijab dan bahkan beberapa hanya mengenal suara (voice recognition :)). Kalaupun terpaksa berinteraksi dengan akhawat, set mode ‘dingin’🙂.
Pun akhirnya satu masa telah berlalu. Zona aman tidak selalu ada. Zona yang selalu kuhindari justru lebih banyak dan luas. Konsekuensi yang dulu dialami oleh temen-temen saya di BEM, seperti Ferdian yang harus senantiasa terlatih dengan zona merah, mau tidak mau harus saya siap hadapi.
Deg-degan, takut ketemu, trus menghindar, adalah hal yang paling sering terjadi. Ya, karena justru rasa ini yang sering muncul ketika berinteraksi dengan akhawat. Melihat jilbab lebar yang berkibar saja, hati sudah berasa lain😀. Ada sebuah pesona, ada nilai lebih disana.
Ada konsekuensi saat zona merah ini mulai kumasuki. Ada reaksi. Yah, saatnya berlatih🙂.
Suatu saat dalam perjalanan dari Bandung, saudara saya Nur Adi memutar lagu D’Cinnamons (ah, saya lupa judulnya), kurang lebih begini ” Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku, hingga membuat kau percaya“. Lagu yang provokatif. Membuat hati tergerak untuk menjadi biru. Menggoda, katakan saja. Namun sisi lain berkata, “tidak untuk saat ini”. Memang mudah untuk langsung mengatakan. Memang susah melawan pergulatan batin. Jika ada rasa yang tak terungkap, saya lebih memilih untuk berdoa. Berikan yang lebih baik dari dia. Saya memilih untuk menjaga hati ini, sebelum saatnya tiba. Bukankah lebih indah jika terucap pada saat yang benar?
Cinta memang akan membuat hati takluk. Tapi saya lebih memilih untuk menjadi Tuan* atas cinta saya . Saya yang akan mengendalikannya. Bukan cinta yang justru menjadikan saya sebagai budaknya. Memikirkan yang diharap, berbunga-bunga saat bertemu, berharap bahwa dialah jodohnya. Atau pada level tertentu, memaksakan kehendak, harus dia. Mengemis kasih, itulah bahasanya Raihan. Bukankah ini perbudakan? perbudakan oleh cinta?. Ah, saya akan mengikuti barisan para pejuang yang menjadi tuan atas cintanya. InsyaAllah lebih indah🙂

*Tuan boleh diganti Nyonya (setelah chatting dengan teman saya)

4 Responses to “Cinta”


  1. 2 Kartika March 19, 2009 at 11:57 am

    cinta.. cinta.. cinta…
    cinta ortu, cinta adek, cinta keluarga, cinta sobat, cinta temen kerja, cinta shopping, cinta traveling, cinta membaca…

    cinta..cinta..cinta..
    semuanya sempurna dengan cinta Rabb..

  2. 3 Andhika April 15, 2009 at 12:32 pm

    cinta…cinta…
    ga bisa pake logika.
    so Contreng Cinta

    hueheheh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: