Dia milikku

Lantunan lagu dari yovie and the nuno (bukan tupen and the betha) terdengar jelas dari kamar tetangga. Judulnya kalau tidak salah ‘Dia milikku’, liriknya begini (sambil bayangin suara satu tupen, suara dua betha) he_hee

dia untukku, bukan untukmu

dia milikku, bukan milikmu

lihatlah nanti, lihatlah saja

biarkan aku mendekatinya

Lagu bagus, tapi cengeng. Rebutan wanita. Saya jadi teringat salah satu kisah tentang Ali bin Abi Thalib saat memaknai tentang cinta pada seorang wanita, Fatimah puteri Rasulullah. Sebagai seorang yang sangat dekat dengan Rasul, wajar Ali tahu persis Fatimah. Kelembutannya, perangainya, kecerdasannya. Kagum, atau mungkin tumbuh menjadi cinta. Atau pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, mungkin begitu. Hati selalu menjadi sesuatu yang misterius dan susah diterka.

Sontak Ali kaget ketika mendengar Abu Bakar akan melamar Fatimah. Ah, siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar. Keimanannya, keluhuran budinya, Ash shidiq julukan beliau. Sepak terjang dan komitmen beliau sungguh luar biasa.

Siapa saya?, resam Ali.

Pemuda miskin dibanding saudagar kaya? Fatimah akan lebih bahagia. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam Ali. “Saya lebih mengutamakan Abu Bakar atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku”. Rupanya lamaran Abu Bakar tidak bersambut, dan rasa itupun bersemi kembali. Saatnya Ali untuk terus mempersiapkan diri.

Namun Ali kembali tersentak, Umar pun datang melamar Fatimah! Kembali Ali membandingkan dirinya dengan Umar. Sosok perkasa, pemberani, bahkan setan pun takut padanya. Dia yang sampai Rasul berdoa, kutkanlah Islam dengan salah satu Umar. Dia yang membuat musuh gentar, tak berani. Sosok yang mampu membuat kaum muslimin lebih berani menegakkan kepala dihadapan musuh.

“Siapa saya?”, resam Ali kembali.

Rupanya Umar pun ditolak.

Ali pun berpikir, seperti apakah menantu yang dicari Rasul? Yang kaya raya, atau yang lebih tampan?

“Kenapa engkau tidak mencobanya Ali?”, saran seorang sahabat Ali.

“Aku?”, jawab Ali

“Siapa saya?, saya hanya pemuda miskin”

“Majulah saudaraku, kami siap membantu”, jawab sahabat Ali

Maka dibulatkan tekad. Bukankah seorang pemuda, harus mempertanggungjawabkan perasaannya. Kalau pun sekarang hanya ada baju besi dan tepung kasar sekadarnya, tidak bisa dijadikan alasan meminta Fatimah menunggu. Kenakak-kanakan jika harus meminta seperti itu. Bukankah Allah berjanji akan memampukan orang yang menikah.

Gayung pun bersambut, ‘Ahlan wa sahlan’, kata Rasul. Lamaran Ali diterima. Fatimah dan Ali akhirnya menikah.

Dengan keberanian akhirnya Ali menuntaskan hatinya. Dengan pengorbanan hati, mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Meskipun ada senyap di hati, ada rasa yang menyentak di dada. Indah katanya ”Saya lebih mengutamakan Abu Bakar atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku”. Tidak cengeng memaknai cinta. Dia milikku, bukan milikmu, kata Yovie and Nuno. Rebutan?, cape de.

*kalau ada kesamaan tokoh, misal nama, adalah unsur kesengajaan. Tidak ada maksud tertentu, kebetulan sedang terlintas nama-nama tersebut, piss bro peace1*

12 Responses to “Dia milikku”


  1. 1 Vie Achmad April 16, 2009 at 10:18 am

    Assalamu’alaykum…

    nice story.
    but do you think this “getting insane” earth still have Ali out there?

  2. 2 Ferry Afit April 16, 2009 at 10:33 am

    InsyaAllah ada. Mereka yang senantiasa memaknai cinta dengan lebih suci. Mereka ada. Dan diantara kita.

  3. 3 douwee April 16, 2009 at 8:15 pm

    SubhanAllah banget…
    jiwa besar yang dimiliki oleh Ali,,btw jadi inget ‘Ilmu ikhlas’diajarkan Pak Dedi Mizwar di film ‘Kiamat Sudah Dekat’

  4. 4 Fajar Hidayat April 16, 2009 at 8:58 pm

    hai fer,,lg iseng2 nemu blog mu..he..
    bagus ya ceritanya,bisa gak ya ngalah kayak Ali gitu kalo dah suka sama cewe,,kyknya susah bgt deh..:D

  5. 6 ridhobustami April 17, 2009 at 10:51 pm

    masya Allah

    matur nuhun fer…..
    wis membuat lelaki semakin sadar…..

  6. 8 Andhika April 20, 2009 at 6:46 pm

    subhanallah
    pelajaran berharga buat yang masih jomblo.
    jadi inget jaman dulu Saat Sayah Jomblo. huehehe

  7. 9 Tia April 24, 2009 at 4:16 pm

    Kalau menurutku justru lirik lagu sudah oke. Sudah sesuai fiqh. Karena menikah kan ibadah, dan dalam fiqhnya dalam melakukan ibadah harus fastabiqul khoirot. Jadi harus berlomba-lomba. hehe, ga jelas.. Ohya jazakallah jadi ngingetin dah lama ga ngurusin blog sendiri.

  8. 11 Anita June 8, 2009 at 11:59 am

    berkunjung!
    tulisannya bagus2 Fer
    bisa diambil utk buletin ruhiyah di lt.16🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: