Mutaba’ah

Dalam sebuah pertemuan rutin, tibalah pada satu sesi khusus. Sesi yang bisa jadi ditunggu-tunggu, atau bahkan karena tidak dewasa, justru jadi alasan pribadi untuk tidak hadir dipertemuan ini. Sesi istimewa. Sesi curhat. Mutaba’ah. Pada sesi ini semua akan menceritakan kondisinya selama sepekan atau mungkin meminta solusi dari masalah yang dihadapi. Satu per-satu akan ditanya. Kondisi kesehatan, kondisi keluarga, kondisi amalan ibadah, dan kondisi pekerjaan. Ada yang bercerita tentang adik yang akan masuk Sekolah favorit, meminta doa semoga dipermudah. Ada yang bercerita tentang pekerjaan yang masih belum kondusif. Cerita tentang ibadahnya yang semakin –Alhamdulillah- baik, atau meminta doa semoga ibadah yang pekan ini turun, bisa naik di pekan berikutnya.

“Alhamdulillah sehat, kondisi keluarga baik. Tilawah rutin, sudah satu juz. Qiyamulail 3 kali, sholat dhuha tiap hari. Mohon do’a semoga tetap istiqomah”, kata seorang peserta.

“Pekan ini, ibadah lagi turun. Qiyamulail hanya sekali, tilawah bolong-bolong, sholat subuh kesiangan terus” sesal salah seorang peserta.

Satu kalimat penutup dari ustadz, “ kondisi yang antum ceritakan sekarang adalah gambaran diri antum. Apakah itu sholat jamaahnya rajin atau tidak, Tilawahnya rutin atau masih bolong-bolong, Qiyamulail atau bangun siang. Itu cerminan antum. Disini kita tidak untuk pamer ibadah atau riya yang akan memberangus amalan kita, tapi untuk mengingatkan dan menjadi motivasi untuk lebih baik”

Sederhana, tapi bermakna. Dalam, menembus hati. Seberapa besar perhatian dengan keluarga. Seberapa professional kita bekerja. Seberapa serius kita menyiapkan bekal di akhirat nanti.

“.. Tidaklah hamba-hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dibanding hal-hal yang Aku wajibkan. Dan hambaKu akan terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan- amalan nafilah, sampai Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengannya. Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan dimana ia bertindak dengannya. Dan aku akan menjadi kaki yang mana ia berjalan dengannya”

Yuk sama-sama kita siapkan bekal kita. Berikan waktu terbaik, diawal dan tempat terbaik, masjid untuk sholat kita. Berikan bonus untuk kita dengan sholat rawatib. Berdoa sebelum tidur. Bangun saat alarm dini hari dengan ‘ikhlas’ berbunyi. Berdua dengan-Nya, curhat, meminta ampunan dan kemudahan. Isi jiwa dengan tilawah. Mengisi pagi yang sejuk dan indah dengan lantunan dzikir almatsurat, atau pas sore hari. Sholat dhuha yang akan membuat rezeki lancar dan diberi kemudahan. Siapkan infaq terbaik untuk investasi akhirat kelak.

Saudaraku tolong saling bantu saya untuk menyiapkan bekal ini.

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti
Sungguh kematian adalah muara manusia
Relakah dirimu
Menyertai segolongan orang
Mereka membawa bekal
sedangkan tanganmu hampa

Rasulullah bersabda
Perbanyaklah mengingat
Akan pemusnah segala kenikmatan dunia
Itulah kematian yang kan pasti datang
Kita tahu kapan waktunya kan menjelang

Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah
Niscaya engkaukan berada dalam Naungannya
dihari kiamat disaat tiada naungan untuk manusia selain naunganNya
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya
Dosapun berguguran, bak daun dari pepohonan

(DzikrulMaut-Suara Persaudaraan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: