(Masih) ada ruang untuk cinta

Selalu ada pilihan atas ruang-ruang yang ada. Setiap ruang akan memiliki makna yang berbeda. Lebih indah. Lebih melankolik. Lebih heroik. Semua pilihan akan jatuh pada kondisi yang sesuai dengan keinginan. Sesuai yang diniatkannya.

Seperti halnya ketika saudara saya bertanya, “Bolehkah kita memilih sendiri?”

Hmm, pertanyaan  yang mengundang diskusi. Saya pun teringat ketika hal ini pernah saya pertanyakan pada ustadz. “Boleh, asal dikomunikasikan”, jawab beliau.

Komunikasi, berarti tidak sekedar mengabarkan. Ada dialog disana. Ada pertimbangan-pertimbangan yang akan dibahas. Menggapai kebaikan. Tidak hanya untuk pribadi tapi untuk kemaslahatan bersama.

Love is blind, suatu saat Redy-salah satu saudara saya- mengucapkannya ketika sudah menikah. Semua indah. Khas remaja, kata orang-meskipun saya tidak setuju, karena urusan ini tidak mengenal usia-.

Bagaimana kalau rasa itu datang tanpa diundang. Haruskah dihilangkan. Apalagi kalau muncul perasaan antara ikhwan dan akhwat, sementara mereka menganggap fitrah itu kotor. Ter ingat kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Bukankah sudah ada kecenderungan sebelumnya. Namun Ali cerdas memanajemen hati. Menyimpan dan mengungkapkan disaat yang tepat. Menjadikan penguat tekad. Bukan meninggalkannya serta merta.

Ini adalah karena hati yang jernih, Ali tahu persis keutamaan Fatimah. Keshalihannya. Akhlaknya. Lantas kenapa tidak segera dipinang.

Kalau memang dia adalah jawaban atas doa dan istikharah. Lantas, haruskah dibuang. Mengingkari perasaan. Akankah lebih baik, menata hati, menguatkan tekad, lantas menjemputnya.

Sekali lagi bukan karena masalah nafsu belaka. Hal yang kadang membuat suci jadi kotor. Karena bisa jadi hati tidak jernih,menjadi tertutup. Alih-alih istikharah, sholat hajat yang ditunaikan. Bukannya meminta petunjuk meminta yang terbaik, justru memaksa Allah menjodohkan dengannya. Mungkin akan sama orangnya, tapi bukankah lebih indah ketika Allah mengulurkannya dengan lembut, bukan melempar dengan murka.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui,Sedang engkau tidak mengetahui.”. Indah Allah memberi petunjuk bagi manusia. Bukankah kita hanya manusia yang tidak tahu apa-apa, sedang Allah Maha Mengetahui. Saya memohon semoga Allah memberi yang terbaik untuk kita.

meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu

maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta

(Rapuh-Opick)

Dedicated for my brother and myself

Berharaplah pada Allah , bukan pada manusia

5 Responses to “(Masih) ada ruang untuk cinta”


  1. 1 Betha June 9, 2009 at 11:29 am

    OK mantab bro..

  2. 2 Ferry Afit June 9, 2009 at 1:27 pm

    Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi semata, saya memohon ampunan kepada Allah apabila ada kesalahan dalam penulisan ini.
    Hanya memberi wacana saja, bahwa bisa lewat orang tua seperti umar menawarkan putrinya Hafsah, lewat murabbi seperti Bilal dan para sahabat lain, atau seperti tulisan di atas.
    Wallahu’alam

  3. 4 nuradinugroho June 15, 2009 at 11:19 am

    Thanks bro….^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: