Kembalilah..

Sedih. Kala engkau bercerita,

“Mata yang dulu teduh kini mata itu menatap sinis padaku. Menilaiku sebelah mata, setelah-sebelumnya menganggapku sebagai saudara seiman. Yang dulu senantiasa penuh dengan rasa itsar seakan hilang. Yang dulu mengucap salam kini seakan kebas akan kehadiranku. Hanya karena aku membuat satu kesalahan. Karena futur. Namun dianggap fatal. Seakan tiada kata maaf lagi.”

Huffh, saya hanya bisa menahan sesak. Inilah alasan engkau tidak mau kembali lagi.

“Akhi, bisa jadi apa yang antum kira, benar adanya, atau-bisa jadi salah sempurna. Bukankah hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati seseorang. Bisa jadi antum salah mengira, hanya perasaan antum saja. Antum merasa bersalah, sehingga saat ada teman yang sedang pusing, diam, antum kira sinis. Ketika ada teman yang sedang buru-buru, atau memang tidak melihat, antum kira tidak mau menyapa. Kalaupun antum benar kiranya, sesungguhnya beliaupun hanya seorang manusia. Seperti kita. Bisa kecewa, ketika ada salah yang tampak. Namun bukan berarti lantas antum pergi dari jalan ini ”

“Lantas engkau pun merasa bukan bagian dari kami lagi. Merasa malu, jika harus bertemu dengan kami. Bisakah antum lupakan semuanya, toh masih ada yang lain. Kenapa harus memikirkan segilintir orang yang tidak suka pada kita, lantas mengabaikan pandangan hangat saudara-saudara lainnya. Saya tidak suka antum dibilang orang yang berguguran, saya meyakini antum hanya berifikir, mengumpulkan kepingan yang terserak, agar kembali utuh. Agar-justru merasa lebih yakin di jalan ini, seperti Ibrahim ketika mencari kebenaran. Salah, salah, salah dan akhirnya mendapat cahaya kebenaran”

“Bisakah engkau kembali?”

Engkau pun terdiam sesaat,

“ Saya masih malu akh, sudah lama saya pergi. Masih pantaskah?, sudah tertinggal jauh”

Bro, saya pun masih belajar. Kita disini hanya berniat memperbaiki diri lebih baik lagi. Tiada niat berbangga diri. Merasa paling mulia karena lebih dulu atau lebih lama di jalan ini. Yang penting adalah niatan kita untuk berubah, konsisten. Ke-arah yang lebih baik”

Thanks bro, butuh waktu untuk bisa kembali lagi, mohon doanya”

———————————————————————————-

Sering. Sering sekali dialog ini terulang dalam episode jalan ini. Saudara kita merasa tercecer, merasa ditinggalkan. Sampai berkata salah apa saya?. Merasa diberi label “gugur” di dahinya. Astaghfirullah..

Sesungguhnya engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu

Berhimpun dalam naungan cintamu

Bertemu dalam ketaatan

Bersatu dalam perjuangan

Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya

Tegakkanlah cintanya

Tunjukilah jalan-jalannya

Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam

Ya Rabbi bimbinglah kami

(Doa Rabithah-Izzis)

Akhi kami rindu kehadiranmu. Rindu canda dan tawamu. Potongan-potongan sejarah di kampus selalu menyeruak indah. Memoar semangatmu, idealisme-mu tergambar lugas. Jangan padamkan itu.

Sesungguhnya jalan ini masih panjang, garis finish ada, bukan saat gelar ST tersandang. Atau saat maisyah tergapai, ataupun saat aisyah tersanding. Garis finish itu ada saat ajal datang dan kemenangan berbuah taman syurga.

Wamal hayaa tuddunyaa illaa mataaul ghuruur. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang melenakan. (Ali Imran :185)

Saudaraku…

Selalu ada tempat untukmu..

Kembalilah…

3 Responses to “Kembalilah..”


  1. 1 wielda S. nova July 6, 2009 at 12:04 pm

    “Selalu ada tempat untukmu..
    Kembalilah…”

    Like this words…


  1. 1 Kembalilah! « Generasi 5:54 Trackback on July 21, 2011 at 5:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: